Seni Budaya
Filosofi ketupat
27-08-2011 Hits:221 Seni Budaya Barmawi Umar
Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat. Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut...
Filosofi ketupat
- Category: Seni Budaya
- Published on Saturday, 27 August 2011 22:42
- Hits: 220

Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat. Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan. Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala.
Nah, janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai Samir penolak bala. Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai. Inilah yang membuat suasana menjelang Lebaran begitu meriah. Kalo kini sih, cukup membeli saja di pasar yang biasanya dijual per ikat berisi 10 selongsong atau selusin selongsong.
Bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan.
Secara harfiah, “kiblat papat lima pancer” bermakna “empat arah mata angin dan satu pusat”. Kalo dijelantrahkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam. Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap “seimbang” hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya. Itulah kira-kira hasil otak-atik gathuk yang saya tangkap dari filosofi “kiblat papat lima pancer” ini. Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut. Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan. Selain simbol maaf, ada yang percaya kalo ketupat dapat menolak bala. Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya. Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan. Percaya atau tidak, tapi itulah filosofi dan tradisi yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua.
Topik Hangat Saat Ini
Setelah BBM, Selanjutnya Tarif Listrik Naik
Setelah harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikan, pemerintah berencana menaikkan tarif dasar listrik. "Keran TDL itu lebih langsung karena ke pemakai. Kita mau atur agar pemakai tak terlalu terkejut bebannya secara bersamaan. Dan akan diatur setelah kenaikan BBM," jelas Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di DPR, Jakarta, Selasa (6/3). Kenaikan BBM sendiri dalam RAPBN-P 2012 akan mulai berlaku 1 April mendatang. Maka, kenaikan tarif dasar listrik akan menyusul Mei dan bertahap setiap tiga bulan berikutnya. Menurut Jero Wacik kenaikan harga BBM berkisar Rp...
Temukan Kami di Facebook
Video SMKN 1 Godean
Info Cuaca Hari Ini
27°C
Sleman, Yogya
Haze
Humidity: 85%
Wind: 11.27 km/h
-
21 May 2012
37°C
23°C
-
22 May 2012
37°C
23°C